Sunday, September 2, 2018

Mengenal Situs Budaya di Papua


WAMENA. Siapa nih yang belum tahu tentang sebuah Festival di Lembah Baliem? Yups, pastinya semua tahu jika Festival Lembah Baliem merupakan festival yang diadakan di Papua. Dimana festival ini menjadi situs besar budaya di Papua. 

 Buat teman-teman yang suka travelling dan berburu wisata budaya, pas banget nih karena wisata yang berbau budaya ada di Papua, juga memiliki beragam kekayaan culture Suku Hubula yang disajikan secara megah. Atraksi-atraksi yang disajikan pada acara festival Lembah Baliem ini mendapat respon positif dari seluruh wisatawan asing. Mereka tampak memadati tribun-tribun yang sudah disediakan. Waaah, jadi mupeng kaaan? Saya aja makin mupeng pengen menyaksikan festival yang keseruannya tiada duanya itu.


Pada acara Festival Lembah Baliem untuk tahun 2018 ini telah resmi ditabuh pada Selasa tanggal 7 Agustus 2018 lalu pukul 10.00 WIT. Lokasi acara terletak di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua dengan opening ceremonynya yang unik dan spesial, yakni ritual memanah babi dan melempar sege atau tombak khas Suku Hubula. Nggak hanya itu saja, Sege dilempar pada obyek berupa batang pisang oleh tokoh pemerintahan dan instansi terkait di Papua.
 “Saya sering datang ke banyak tempat, tapi tidak ada yang seperti di Lembah Baliem ini. Di sini sangat luar biasa. Saya bahkan sudah sembilan kali ke Afrika, tapi masih lebih mengesankan di Lembah Baliem. Di sini semuanya sangat otentik. Saya baru pertama ke sini dan sangat takjub dengan semuanya,” jelas Wisatawan Malaysia Mah To. 
Setelah selesai opening ceremony, adrenalin wisman dinaikan dengan adanya atraksi nikah adat yang turut disajikan Aslot Group. Agenda tersebut memberikan inspirasi bagi semua pengunjung yang hadir, sebab pernikahan adat di Suku Hubula sudah sangat jarang dilaksanakan. 

“Kami datang bersama 13 orang lainnya ke Lembah Baliem hanya untuk melihat pertunjukan-pertunjukan di ini. Semuanya ada filosofinya dan ini yang kami suka,” lanjutnya.

Atraksi Nikah Adatnya disajikan secara detail, mulai dari ilustrasi masa pingit calon mempelai wanita yang berlangsung maksimal 2 minggu, dimana selama menjalani fase ini tersebut kaum wanita diajarkan manajemen berumah tangga oleh ibunya. Dan, setelah usai dipingit pesta pernikahan dimulai dengan membayar mas kawin dimana Mas kawin yang dibayarkan berupa noken, kapak batu, kulit biayerak, dan babi hasil dipanah. Pada festival Lembah Baliem, atraksi Nikah Adat menjadi pembuka terbaik yang digelar secara spesial karena para wisatawan langsung menyerbu ke venue untuk mengabadikan moment langka tersebut. 


Lembah Baliem ini memang bagus. Tidak ada duanya di tempat lain. Kami suka dengan baju adat mereka yang unik dan lengkap dengan aneka asesorisnya. Cara mereka hidup juga luar biasa, terutama cara bertaninya, terang Mah To. 
 Suasana festival semakin hangat ketika beragam Tarian Perang khas Suku Hugula disajikan semuanya. Mungkin diantara teman-teman bertanya, mengapa Tarian Perang menjadi atraksi yang disajikan untuk menjadi pembukaan? For your Information! Tarian Perang ini merupakan tarian yang menceritakan terjadinya perang disebabkan pencurian babi oleh suku lain. Dimana simulasi perang tersebut dilakukan secara natural dengan lesatan anak panah, tapi diarahkan ke atas. Lalu, kemudian kedua suku akhirnya berdamai setelah babi-babi tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. 
 “Saya enjoy menikmati sajian budaya di sini. Saya memang sengaja datang untuk festival ini. Secara basic, saya suka dengan culture seperti ini. Di sini ada banyak culture yang disajikan. Saya benar-benar terkesan. Ini adalah kedatangan saya yang pertama di Lembah Baliem,” Wisatawan Swiss Freddy Goetsch menjelaskan. 
Pada simulasi Tarian Perang, tentunya dilengkapi juga dengan aksi perwakilan Distrik Welesi yang menjadi tuan rumah, selain itu mereka juga menyajikan tiga sisi kehidupan dari masyarakat adat di sana. Cerita tersebut bermula dari kisah seorang gadis Welesi yang menanti jodohnya di Honai atau rumah adat Hubula hingga moment yang ditunggu datang. Sebab, pada pembukaan Honai-lah yang pada akhirnya dipertemukan dengan pria dari keluarga lain. Dan, cerita pun berlanjut dengan seorang kepala adat yang memiliki dua orang istri. Namun ternyata, ketua adat ini lebih sayang terhadap istri mudanya hingga menimbulkan kecemburuan. Ya yang namanya manusia pasti ada rasa cemburu dong! 


Demi menyempurnakan sajian, Distrik Welesi juga menyajikan sebuah pertunjukan sebagai penutup dengan Tarian Etae atau Ebetay, yang mana tarian tersebut merupaan tarian yang dibawakan dengan berlari secara melingkar. Kemudian kelompok lain berdiri di tengah sambil berteriak. Tentunya pemandangan yang menegangkan! Next, sensasi peperangan dilanjutkan oleh Distrik Asso Tipo dimana mereka menyajikan Tarian Perang dengan pemicu sengketa wilayah dua suku berbeda. Namun, semuanya dapat diselesaikan dengan damai. 


Selain menyajikan Tarian Perang dengan beragam latar cerita, Festival Lembah Baliem juga turut menggelar Karapan Babi. Karena penyajiannya yang unik sehingga event ini mendapat apresiasi besar dari wisatawan. Tahu kah teman-teman apa itu Purada? Yups, bener banget. Purada ini merupakan ketrampilan membidik sebuah obyek yang bergerak dengan melemparkan sege atau tombah khas Suku Hubula. Demi utuk melengkapi histori Lembah Baliem, sehingga akhirnya opera sejarah Wamena ikut ditampilkan berupa tarian, dimana tarian tersebut berkisah tentang kedatangan pemerintah Belanda ke wilayah Lembah Baliem. Kemudian, mereka bertemu dengan salah satu ketua adat yang sedang membawa anak babi sehingga terciptalah komunikasi. 
 “Festival Lembah Baliem ini kelasnya sudah dunia. Ada banyak wisman yang menunggu momentum ini. Kami tentu gembira dengan respon wisatawan di sana. Kemasan dari festival ini memang luar biasa dengan beragam budaya yang ditampilkan. Enjoy Lembah Baliem,” ucap Menteri Pariwisata Arief Yahya saat penutupan.
Nah, bagaimana teman-teman, kapan nih kita nobar festival Lembah Baliem secara langsung? Yuk 😁

1 comment:

  1. Datang ke sana pas festival pasti mendapat banyak pengetahuan ya

    ReplyDelete

Keseruan Hari Terakhir GWRF 2019

Saya berkesempatan mengikuti acara Talkshow di perpustakaan nasional di acara tersebut nara sumbernya sudah sukses menjadi penulis yang bany...