Potret Kusta di Indonesia dan Peran Media Dalam Penanganannya

Kusta dan cara atasinya
Pict. @nlrIndonesia


Kusta, dulu kerap Saya mendengar tentang jenis penyakit itu, penyakit yang dianggap sebagai penyakit kutukan. Padahal, tidak ada yang namanya penyakit kutukan. Kemudian berkembang dan menimbulkan stigma masyarakat yang negatif terhadap penyakit Kusta.

Disebabkan stigma dan minimnya informasi mengenai penyakit kusta inilah yang akhirnya membuat negara kita belum bisa sepenuhnya terbebas dari penyakit kusta ini.

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu Saya beserta teman-teman blogger mendapat kesempatan mengikuti Media Gathering dan Peluncuran Proyek SUKA #SuaraUntukKusta yang berlangsung pada tanggal 14 April 2021 dengan tema "Media yang Mengedukasi dan Memberantas Stigma Kusta dan Disabilitas" melalui media Zoom serta pada tanggal 19 April 2021 baru-baru ini kembali berkesempatan menyaksikan siaran langsung dari berita KBR melalui channel Youtube dengan tema yang masih berkaitan mengenai Kusta, yakni "Melihat Potret Kusta di Indonesia."

Dari kedua tema yang diangkat ini tentunya saling berkaitan, dimana kita bisa melihat potret Kusta yang ada di Indonesia yang kemudian melalui media untuk bersama-sama mengedukasi serta memberantas stigma mengenai Kusta dan Disabilitas, supaya masalah ini bisa teratasi dengan baik. Dan, tentu saja diperlukan kerjasama semua pihak.

Kusta dan peran media

Pada webinar sebelumnya, mengenai peluncuran Proyek SUKA #SuaraUntukKusta ini menyampaikan jika proyek ini lahir dari rasa keprihatinan terhadap tenaga ahli di bidang kusta, baik untuk tenaga medis maupun tenaga konsultan yang menangani psikis penderita yang semakin sedikit.

Atas rasa keprihatinan tersebut, yang kemudian dalam proyek ini ingin melibatkan media sosial dan internet dalam mengedukasi masyarakat luas supaya paham apa itu kusta dan bagaimana cara menanganinya.

Pada pembahasan melalui siaran berita KBR baru-baru ini, menjelaskan jika kusta masuk dalam kategori jenis penyakit tropis terabaikan, sebab sudah ada sejak tahun 1400 sebelum masehi, dan kusta menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang sudah menjadi peringkat ketiga.


Sekilas Tentang Kusta 

Pada acara berita KBR yang Saya ikuti melalui channel youtube beberapa hari lalu, menghadirkan dua orang narasumber, diantaranya:

  • dr. Udeng Daman, selaku tecnical Advisor Program Pengendalian Kusta NLR Indonesia
  • Monika Sinta, selaku Team Leader CSR PT United Tractors
Berita KBR mengenai kusta

Dalam kesempatannya, dr. Udeng Daman menyampaikan, jika seseorang yang terkena penyakit kusta ini memiliki tanda-tanda, diantaranya:

  • 1. Adanya bercak kulit yang mati rasa, bisa berwarna keputihan seperti panu, atau kemerahan.
  • 2. Adanya penebalan syaraf dan adanya gangguan fungsi, yakni gangguan pada fungsi motorik, fungsi sensorik dan otonom. 
  • 3. Ditemukannya bakteri.


Nah, dari tanda-tanda ini, jika masyarakat luas tahu tentunya akan segera mencari solusi supaya masalah kusta ini bisa segera diatasi, sebab jika terlambat ditangani ataupun diobati kusta dapat menyebabkan Disabilitas. 

"Kusta ini penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dan biasanya menyerang kulit dan syaraf," Ucap dr. Udeng Daman. 

Keterlambatan penanganan inilah kata dr. Udeng Daman yang menyebabkan kusta makin menyebar dan makin meluas hingga kemana-mana. Tentu saja keterlambatan penanganan ini karena disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala kusta serta tingginya stigma dan diskriminasi terhadap mereka yang sedang dan pernah mengalami kusta.


Peran Media Dalam Menangani Stigma dan Diskriminasi Terhadap Penderita Kusta

Pernah membaca atau menyaksikan langsung seseorang dengan terang-terangan mempublishkan foto atau video penyandang disabilitas dengan menyebut kata "cacat jasmani atau jiwa" bahkan kata "orang gila"? Saya pernah, dan itu miris sekali dan bagi Saya bahkan tidak manusiawi. 

Stigma negatif mengenai kusta
Pict. @nlrIndonesia


Padahal, mereka yang menderita kusta dan penyandang disabilitas sama halnya dengan kita, ingin dihargai dimanapun berada. Namun karena timbulnya stigma miring tentang mereka, akhirnya mereka merasa dikucilkan.

Dari sinilah diharapkan media dapat memulai untuk menggunakan diksi-diksi yang lebih manusiawi terhadap mereka yang terkena penyakit kusta dan penyandang disabilitas, sehingga dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka kembali. 


Semoga informasi ini bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proteksi Diri dengan FWD Cancer Protection

House Kari Ala Jepang Membuat Masakan Kari Makin Enak

Tips Cara Merawat Baju Koko Modern